Sorong – Satgaswil Densus 88 Anti Teror (AT) Polri Papua Barat menggelar kegiatan podcast live streaming di Pro 1 RRI Sorong, Kamis (24/9/2026). Mengusung tema “Bersama Membangun Ruang Digital yang Aman dan Ramah Anak”, diskusi ini menjadi bentuk kerja sama sinergis dalam upaya mencegah penyebaran paham intoleran serta radikalisasi digital di Provinsi Papua Barat Daya.
Podcast Obrolan Interaktif Pagi ini menghadirkan tiga narasumber utama, yaitu Kasatgaswil Papua Barat Densus 88 AT Polri Kombes Pol. Gede Suardana, S.Pd., M.M., Kepala Komdigi Loka Monitor Spektrum Frekuensi Manokwari Makmur, S.T., M.Si., serta Fasilitator Pemberdayaan Perempuan dan Anak Provinsi Papua Barat Daya Drs. Setiyo Nastiarwo.
Dalam penyampaiannya, Kombes Pol. Gede Suardana menekankan bahwa radikalisme digital kini telah menjadi ancaman nyata, terutama bagi generasi muda.
“Kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan melalui deteksi dini terhadap konten bermuatan ekstrem dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya. Peran aktif warga dalam melaporkan indikasi radikalisme di lingkungan masing-masing sangat penting bagi keamanan kita bersama,” tegas Gede Suardana.
Ia juga menjelaskan bahwa Satgaswil Papua Barat terus membangun kolaborasi erat dengan Loka Monitor Spektrum Frekuensi Radio guna memutus rantai penyebaran paham radikal secara efektif di dunia maya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Loka Monitor Spektrum Frekuensi Radio dan Infrastruktur Digital Manokwari, Makmur, mengatakan perkembangan teknologi dan infrastruktur digital telah membuka akses informasi tanpa batas, termasuk bagi anak-anak.
“Perkembangan teknologi membuka akses informasi tanpa batas, termasuk bagi anak-anak. Namun, ruang digital menyimpan kerawanan besar karena kerap disalahgunakan untuk menyebarkan intoleransi, radikalisme, hingga konten berbahaya lain seperti judi online, pornografi, dan perundungan siber (cyberbullying),” ujar Makmur.
Guna mengatasi ancaman ini, Komdigi menjalankan fungsi pemantauan infrastruktur digital dan pengawasan lalu lintas konten internet. Melalui kolaborasi bersama Densus 88 dan Komdigi berkomitmen melakukan penapisan (filtering) konten negatif serta mengedukasi publik agar ruang digital tetap ramah anak. “Tantangan ini tidak bisa diselesaikan sendiri. Sinergi adalah kunci utama melindungi anak-anak kita,” tambahnya.
Dari sisi perlindungan sosial, Drs. Setiyo Nastiarwo menyoroti tingginya kerentanan perempuan dan anak terhadap paparan radikalisme digital. Menurutnya, benteng pertahanan utama untuk menangkal ancaman ini harus dimulai dari lingkungan terkecil.
“Literasi digital di dalam keluarga merupakan benteng pertahanan utama. Orang tua harus lebih aktif mengawasi aktivitas anak di dunia maya. Kolaborasi lintas sektor sangat diperlukan untuk melindungi mereka dari pengaruh negatif konten radikal,” pungkas Setiyo.
Diskusi interaktif yang dipandu oleh penyiar RRI, Lucy, ini diharapkan mampu memperkuat kesadaran kolektif seluruh elemen masyarakat di Papua Barat Daya. Melalui edukasi berkelanjutan dan sinergi yang kuat antarlembaga, diharapkan dapat tercipta lingkungan digital yang sehat, aman, dan bersih dari pengaruh paham radikal demi masa depan generasi muda.
(Red/Rezha LDD)
