JAKARTA — Pdt. Dr. Lusak Andrews M. Butar-butar, S.Th., M.Th., menegaskan pentingnya peran gereja dalam merawat persatuan bangsa di tengah polarisasi sosial, politik, dan keagamaan. Pesan tersebut menjadi salah satu sorotan disertasinya berjudul “Polarisasi Gereja Injili dan Ekumenikal di Wilayah DKI Jakarta: Pendekatan Interdisipliner Sosiologi Keamanan Nasional” dalam momentum wisuda doktoral teologi STT Indonesia Jakarta di Gedung GBI GLOW SEASON CITY – Jakarta Barat, Sabtu (24/10/2026).
Kajian tersebut mengangkat persoalan perbedaan teologi, identitas denominasi, orientasi politik, dan pengaruh media digital yang berpotensi memicu kecurigaan hingga perpecahan antargereja.
Melalui pendekatan teologi, sosiologi agama, dan keamanan nasional, polarisasi dipandang bukan sekadar persoalan internal gereja, tetapi juga tantangan bagi kohesi sosial dan ketahanan bangsa.
Pdt. Lusak menekankan bahwa Gereja Injili dan gereja-gereja ekumenikal memiliki panggilan yang sama untuk menghadirkan kasih, perdamaian, dan rekonsiliasi. Perbedaan doktrin, pola ibadah, maupun pendekatan pelayanan tidak seharusnya menjadi penghalang untuk membangun kerja sama.
Kesatuan, menurut pesan utama kajian tersebut, bukan berarti menyeragamkan keyakinan, melainkan kesediaan untuk saling menghormati dan bekerja bersama di tengah perbedaan.
Ia juga menyoroti ancaman disinformasi, ujaran kebencian, intoleransi, dan politik identitas yang dapat merusak kepercayaan sosial. Gereja karena itu didorong memperkuat literasi digital, pendidikan yang beretika, pelayanan sosial, serta dialog lintas denominasi dan lintas agama.
Dalam konteks Jakarta yang majemuk, gereja diharapkan tidak hanya menyampaikan pesan perdamaian dari mimbar, tetapi juga mewujudkannya melalui tindakan nyata, seperti pemberdayaan masyarakat, pendampingan kelompok rentan, dan perjuangan keadilan sosial.
Pesan tersebut sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Momentum wisuda doktoral ini menjadi pengingat bahwa gelar akademik membawa tanggung jawab untuk mengabdikan ilmu bagi kemanusiaan dan kehidupan berbangsa.
Melalui kajian tersebut, Pdt. Lusak mengajak seluruh elemen masyarakat menolak kebencian dan provokasi serta mengedepankan dialog, kasih, dan solidaritas.
“Shalom. Ut Omnes Unum Sint” — semoga semua menjadi satu — DOA TUHAN Yesus Kristua kepada murid-murid dan pengikutNya menjadi pesan penutup bagi terwujudnya Indonesia yang damai, adil, dan bersatu.
